Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN, Yusuf Didi Setiarto. Foto: dok. PLN
YOGYAKARTA — PT PLN (Persero) menegaskan bahwa masa depan energi bersih tak hanya ditentukan oleh lompatan teknologi, tetapi terutama oleh kualitas dan pola pikir sumber daya manusia (SDM).
Pesan itu mengemuka dalam The 13th Meeting of Heads of ASEAN Power Utilities/Authorities (HAPUA) Working Group 5, bertema “Human Capital Mindshift: Aligned People, Strategy, and Growth”, yang digelar di Yogyakarta.
Forum HAPUA menjadi wadah kolaborasi utilitas listrik se-Asia Tenggara untuk memperkuat ketahanan energi kawasan. Pertemuan Working Group 5 tahun ini merupakan rangkaian dari agenda HAPUA di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, yang berlangsung pada 29 September–3 Oktober 2025.
Dalam sambutannya, Co-Chairman HAPUA Working Group 5, Hjh Izwaliani Hj Zulkarnain, menekankan bahwa transisi energi tidak semata soal kecanggihan perangkat maupun digitalisasi. Ia menyebut keberhasilan transformasi bertumpu pada kesiapan manusia untuk mengubah cara berpikir.
“Jika tahun lalu kita membahas perencanaan SDM di era kecerdasan buatan, tahun ini kita bicara lebih dalam—tentang pergeseran pola pikir. Transformasi sejati tidak dimulai dari teknologi, tetapi dari bagaimana kita berpikir secara berbeda," ujar Izwaliani dalam keterangannya, Rabu, 5 November 2025.
Izwaliani menegaskan bahwa teknologi, termasuk AI, bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan mendorong terciptanya SDM yang lebih adaptif dan mampu memanfaatkan kemajuan dengan bijak. Ia juga menyoroti pentingnya people experience sebagai bagian dari strategi pengembangan SDM modern.
“Teknologi membuat kita bergerak cepat, tetapi people experience memberi alasan untuk melangkah. Ketika orang merasa dihargai dan memiliki tujuan, mereka menjadi penggerak transformasi,” kata dia.
Dari sisi Indonesia, Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN, Yusuf Didi Setiarto, menyampaikan bahwa dinamika
Comments 0