Â
Roy A Arfandy, Direktur Utama PT Trimegah Bangun Persada, holding dari Harita Nickel, mengakui adanya kendala pendanaan saat awal pengembangan smelter Nikel. Dia berharap adanya dukungan pemerintah dalam mengatasi masalah pendanaan Ini.
Â
"Setengah mati cari pinjaman. Pabrik MHP (mixed hydroxied predipitate) kami investasinya besar, US$1,2 miliar. Untuk pendanaan memang perlu dibantu. Bank pemerintah banyak menahan untuk pendanaan karena masalah sumber listrik,†kata dia.Â
Â
Produksi MHP ini menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). MHP yaitu campuran padatan hidroksida dari Nikel dan cobalt.
Â
MHP merupakan produk antara dari proses pengolahan dan pemurnian Nikel kadar rendah sebelum diproses lebih lanjut menjadi Nikel sulfat dan kobalt sulfat.
Â
Saat ini Harita juga sedang mengembangkan fasilitas produksi lanjutan untuk menghasilkan Nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan material utama baterai kendaraan listrik.
Â
Roy mengungkapkan di Halmahera, Maluku Utara kebutuhan listrik berasal dari pembangkit yang dibangun perusahaan, yaitu pembangkit batu bara.
Â
“Kami sudah coba menggunakan panel surya, tapi kapasitasnya tidak besar dan butuh lahan yang sangat luas, ratusan hektare. Kami juga butuh izin lebih lanjut untuk eksplorasi lanjutan," ujarnya.
Â
Roy mengatakan saat ini pihaknya tengah mempersiapkan initial public offering (IPO) guna mendapatkan pendanaan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) kedua.Â
Â
"Sekarang sudah mulai banyak
Comments 0