Foto: ist
“Semakin kita membaca Al-Qur’an, semakin kita menemukan pencerahan baru. Bukan soal siapa yang paling benar, tapi bagaimana teks suci ini terus hidup dan relevan dalam berbagai zaman,” katanya.
Syifa juga menyinggung ketimpangan perhatian umat terhadap sains dan hafalan Al-Qur’an. Ia mengutip pengalaman Guessoum saat menghadiri pameran sains dan lomba tahfiz di sebuah sekolah di Uni Emirat Arab, 2006 lalu. Hasilnya kontras. Pameran sains dihadiri segelintir orang dengan anggaran 1.000 dolar AS, sementara lomba tahfiz disambut meriah dan didukung dana hingga 20.000 dolar AS.
“Hafalan itu baik, tapi tanpa pemahaman kritis bisa mematikan nalar,” ucap Syifa. Ia menyebut, situasi ini mirip dengan pengalaman Guessoum saat mahasiswanya menolak teori kosmologi modern hanya karena tafsir tekstual ayat tertentu.
Syifa mendorong umat Islam menempuh pendekatan tafsir ilmi yang lebih kontekstual, sebagaimana dilakukan ilmuwan Muslim peraih Nobel, Abdus Salam. Salam, kata Syifa, tak sibuk mencari pembuktian saintifik bagi ayat-ayat Al-Qur’an, melainkan menggunakan sains untuk menggali makna terdalam kitab suci.
Menutup diskusi, Syifa mengajak audiens untuk memilih pendekatan yang lebih meyakinkan. “Apakah kita sekadar mencari pembenaran atau benar-benar ingin memahami Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi ilmu pengetahuan? Marilah kita jadi pembaca kritis, bukan hanya penghafal ayat,” tandasnya.***
Comments 0