Sejumlah anak-anak Jakarta semringah mendapatkan pemutihan ijazah tahap III. Foto: dok. Pemprov DKI
KOSADATA - Tepuk tangan pecah di halaman SMK Miftahul Falah, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa pagi itu. Di antara deretan bangku plastik, 827 wajah—sebagian berbinar haru, sebagian masih tak percaya—menyambut selembar kertas yang selama ini hanya jadi mimpi: ijazah sekolah mereka.
Satu per satu mereka dipanggil. Ada yang mengangguk pelan, ada yang meneteskan air mata. Setelah bertahun-tahun tertahan karena kendala biaya, hari itu mereka akhirnya menggenggam bukti pendidikan yang pernah ditempuh. Bukan sekadar dokumen, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih pasti.
Di tengah acara, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berdiri tegak, mengenakan seragam dinas coklat didampingi Wali Kota Jakarta Selatan, M Anwar dan Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, M Thamrin.
“Hari ini adalah hari penting. Ijazah yang tertahan hingga dua sampai tujuh tahun, akhirnya bisa kalian terima. Ini memang saya pantau langsung," ujar Pramono di lokasi.
Program pemutihan ijazah tahap III tahun 2025 ini memang bukan program baru. Namun skala dan ketegasan implementasinya kini terasa lebih nyata. Dari 827 siswa yang menerima bantuan hari itu, tercatat 44 lulusan SD, 160 SMP, 138 SMA, 456 SMK, dan 29 dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Semua proses berjalan setelah verifikasi ketat oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta, melalui koordinasi dengan BAZNAS (BAZIS) DKI.
Seorang siswa SMK, Asep Maulana (20), mengaku ijazahnya sempat tertahan sejak 2019. Ia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar galon, karena tak punya dokumen yang dibutuhkan untuk melamar kerja di perusahaan.
“Baru hari ini saya bisa melihat ijazah saya lagi. Rasanya kayak hidup saya mulai ulang,” ujarnya, menggenggam dokumen itu
Comments 0