Mujiyono saat diskusi Ngobrolin Jakarta (Ngojak) bertajuk 'Menebak Jawara Pemilu 2024 di Jakarta’. Foto: ist
“Nggak terukur bendera saya itu berkibar banyak banget, ada tulisannya (nomor) delapan Mujiyono. Bahkan pernah masuk rubrik RCTI, sampah politik mengotori Jakarta,” lanjutnya.
Sebagai mantan auditor swasta, Mujiyono sangat realistis terhadap data-data. Dari survei internal yang dia lakukan, besar kemungkinan Demokrat akan tetap mendapat kursi pimpinan di Parlemen Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Bahkan perolehan kursinya ikut naik, dari yang semula 10 orang pada Pileg 2019, akan naik menjadi 14 kursi pada 2024. Meski diprediksi perolehan kursi bertambah, tapi Demokrat tetap berada di urutan keempat di DPRD DKI Jakarta.
“Dari survei yang kami lakukan itu, kemungkinan Gerindra (unggul) dengan 23-24 kursi, sedangkan PDIP selisihnya hanya 2-3 kursi dengan Gerindra atau sekitar 20-21 kursi, PKS naik dari 16 jadi 19, Demokrat 14 kursi dan kemudian Golkar (kemungkinan 9-10 kursi),” ungkap Mujiyono.
Sementara itu Sekretaris DPW PKS DKI Jakarta Abdul Aziz menghargai, survei internal yang dilakukan Demokrat bahwa perolehan kursi PKS kemungkinan bertambah. Aziz tak menampik, efek ekor jas dari sosok Capres nomor urut satu, Anies Baswedan memberikan positif yang begitu besar bagi PKS.
“Alhamdulillah, kehadiran Pak Anies dalam kontestasi Pilpres yang juga diusung PKS tentu akan memberikan efek yang baik bagi elektabilitas partai,” kata Aziz.
Menurutnya, ceruk suara antara PKS dengan Partai Demokrat tentu berbeda. Secara ideologi, Partai Demokrat menganut nasionalis-religius, sedangkan PKS lebih condong ke religius sehingga lebih dikenal sebagai partai politik berbasis Islam.
“PKS ini merupakan partai kader, sebagai partai kader diutamakan mesin partai
Comments 0