Foto: ist
KOSADATA - Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) memperkenalkan teknologi pengatur suhu berbasis Internet of Things (IoT) guna meningkatkan keberhasilan penetasan telur penyu. Bahkan, tim UGM memindahkan lokasi konservasi Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) karena kawasan konservasi penyu di Pantai Trisik, Desa Banaran, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terancam rusak akibat abrasi.
Pemindahan lokasi konservasi dilakukan ke area Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang lebih aman dari hempasan ombak.
“Kami membantu merelokasi Konservasi Penyu Abadi sehingga dapat meningkatkan tingkat penetasan dan menjaga plasma nutfah Penyu Lekang sebagai bagian dari keanekaragaman hayati,” ujar dosen FKH UGM, drh. Yudhi Ratna Nugraheni dilansir laman resmi UGM, Rabu, 29 Oktober 2025.
Yudhi menjelaskan, kondisi konservasi sebelumnya memprihatinkan karena abrasi pantai mengikis area peneluran, sementara sebagian besar telur gagal menetas hingga mencapai angka 90 persen. Selain pemindahan, tim juga menginisiasi penggunaan termoregulator berbasis IoT untuk menjaga suhu inkubasi telur penyu.
“Dari rumah pun relawan bisa memantau dan mengontrol suhu penetasan melalui sistem ini,” kata Yudhi.
Menurutnya, keterbatasan dana menjadi kendala utama dalam pengelolaan konservasi. Selama ini, operasional hanya mengandalkan donasi dari wisatawan yang ikut melepas tukik ke laut. “Mereka hidup dari sumbangan pengunjung. Kalau tidak ada yang datang, praktis kegiatan berhenti,” ucapnya.
Tim UGM juga menyoroti rendahnya kemampuan teknis para pengelola konservasi dalam menangani kesehatan satwa liar. “Kadang tukik mati mendadak karena tidak ada penanganan medis. Itu sebabnya kami dampingi,” kata Yudhi.
Selain membantu konservasi, program pengabdian masyarakat yang dipimpin Yudhi turut mengembangkan ekonomi warga Banaran. Bersama Universitas Tidar, mereka mengolah kotoran ternak
Comments 0