Bimtek BPTJ dengan pengusaha dan sopir angkutan barang. Foto dok BPTJ
Ia juga menjelaskan bahwa meskipun pengemudi memahami cara membawa kendaraan namun belum tentu dapat mengerti cara pengereman baik di tanjakan maupun di turunan.
“Banyak hal yang diajarkan dari bimbingan teknis ini, seperti bagaimana para instruktur memberikan guidance untuk menentukan pengereman. Ada yang caranya menggunakan rem, ada yang menggunakan gigi, dan jika rem tidak mampu maka dibantu oleh regenerative brake. Sama seperti di kereta, kecepatan diturunkan secara bertahap dan pada saat pengereman dibantu oleh mesin sehingga tidak terjadi apa yang disebut rem blong atau sistem rem yang tidak berfungsi”, ungkap Dedy
Sistem rem yang tidak berfungsi merupakan salah satu kegagalan sistem dalam melakukan pengereman.
“Kegagalan dapat disebabkan oleh beberapa macam. Kegagalan karena orangnya yang tidak dapat mengantisipasi, kegagalan karena sistemnya atau kegagalan karena main function dari alat itu sendiri. Hal tersebut yang harus diantisipasi dari jauh-jauh hari”, jelas Dedy.
Ia juga menghimbau untuk selalu menjaga jarak antar kendaraan di jalan. Hal ini tentunya agar memberi waktu reaksi bagi pengemudi menyadari adanya bahaya dan mengambil tindakan.
Dengan menjaga jarak, pengemudi dapat menyesuaikan kecepatan atau menghindari bahaya tanpa terburu-buru.
"Jaga jarak sangat penting, agar keamanan di jalan dapat meningkat dan mengurangi resiko kecelakaan akibat terlambat mengambil tindakan", pungkas Dedy.
Ia juga berharap bahwa apa yang didapatkan dari kegiatan Bimtek ini dapat diaplikasikan di perusahaan masing-masing. Selain itu, lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan seperti Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan dan Sekolah Tinggi Transportasi Darat kedepannya dapat membangun lokasi belajar untuk bisa dijadikan sebagai wahana berlatih, tidak hanya untuk mengembangkan metode, cara dan konsep yang tepat
Comments 0