Sementara itu Satyo Purwanto, FIS mengatakan bahwa aktor-aktor politik yang masih menggaungkan tentangg penundaan Pemilu menunjukkan bahwa mereka ada dalam satu orkestra.
"Sehingga kita bisa melihatnya bahwa penundaan pemilu adalah bagian dari strategi rejim untuk bertahan dalam kekuasaannya," Satyo.Â
Masih menurut aktivis yang akrab dipanggil Komeng ini menilai bahwa rezim sekarang adalah Rezim gemar bikin Perppu.Â
Semua yang dianggap mengganggu kekuasaan politik rezim, pasti diterbitkan perpu.Seperti KPK, Corona, Ciptaker. Dikhawatirkan akan muncul tiba-tiba perppu penundaan Pemilu" papar Komeng.
Terkait kualitas demokrasi yang ada saat ini, Komeng menilai demokrasi jauh dari demokrasi yang berkualitas.
"Walau klaimnya adalah demokrasi Pancasila. Karena tanpa ada keadilan, demokrasi tidak bermanfaat," tegas Komeng.
Dandhi Mahendra, FKSMJ menelisik dampak terhadap budaya ketika pemilu ditunda. Dimana saat ini secara budaya, bangsa ini telah mengalami kemerosotan.
"Korupsi merajalela, kekerasan berlangsung dimana-mana, dan penguasa tidak menunjukan ketauladanan sebagai cermin budaya bangsa," kata Dandhi.
Dari 5 pembicara semua bersepakat bahwa kerusakan yang dihasilkan dari rezim saat ini sudah paripurna, sehingga Aktivis 98 harus dapat memberikan solusi yang dapat diterima rakyat sehingga perubahan sejati bisa terwujud.Â
Sukma Widyanti, KBUI menyatakan bahwa Aktivis 98 akan mensosialisasikan perubahan sejati yang akan diwujudkan jika pemilu ditunda ke jaringan gerakan mahasiswa saat ini.
"KDA 98 siap untuk meluaskan jaringannya ke gerakan mahasiswa, dan saat ini sudah menjalin komunikasi dengan beberapa jaringan gerakan mahasiswa nasional" ungkap Sukma.
Agung Wibowo Hadi, Forkot menyatakan jika penundaan pemilu benar-benar terjadi maka akan terjadi vacum of power
Comments 0