Foto: ist
Bahkan, Munir menyarankan agar hotel-hotel berperan aktif sebagai tuan rumah dalam festival budaya Betawi secara rutin.
Menurutnya, Jakarta harus tetap jadi etalase budaya Betawi, meskipun bukan lagi Ibu Kota Negara.
"Hotel juga dapat menawarkan paket wisata budaya Betawi, yang meliputi tur ke kawasan Betawi tradisional, wisata kuliner, serta kunjungan ke pusat kerajinan atau tempat-tempat bersejarah di Jakarta yang berhubungan dengan Betawi," paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, pemerhati kebijakan publik dr. Rendara menekankan pentingnya pelatihan dan pemberdayaan masyarakat Betawi agar mampu bersaing di dunia kerja, khususnya di sektor perhotelan.
Ia menyarankan adanya kemitraan antara hotel dengan organisasi masyarakat Betawi untuk pelatihan keterampilan, seperti layanan pelanggan dan pengolahan kuliner.
Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas SDM dan memperluas akses kerja bagi generasi muda Betawi.
"Dengan menggandeng budaya Betawi, hotel dapat meningkatkan citra mereka sebagai tempat yang tidak hanya menawarkan kenyamanan modern, tetapi juga memperkenalkan budaya lokal. Ini akan menarik wisatawan yang ingin merasakan lebih banyak tentang kebudayaan dan tradisi tempat yang mereka kunjungi," ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara pelaku budaya Betawi dan sektor perhotelan dinilai sebagai langkah strategis dalam menjaga eksistensi budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Transformasi Jakarta menuju kota global yang berbudaya dan berkelanjutan dinilai tidak bisa lepas dari peran serta budaya Betawi sebagai identitas asli kota ini.
"Pelaku ekonomi budaya Betawi memiliki banyak peluang untuk masuk dan berkolaborasi dengan hotel-hotel, baik dalam aspek kuliner, seni pertunjukan, produk kerajinan,
Comments 0