Tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar atau kerap disapa Habib Ja'far. Foto: ist.
KOSADATA - Tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar atau kerap disapa Habib Ja'far mengungkapkan bahwa bulan suci Ramadan menjadi momentum yang baik bagi para pemangku kepentingan untuk kembali melihat sektor pertambangan yang bukan hanya sekadar sebagai komoditas bisnis, melainkan titipan yang harus dijaga dengan baik.
Ia menilai, Tambang sejatinya merupakan amanah yang dikaruniakan untuk dikelola oleh manusia, yang ditugasan untuk menjadi pemimpin di atas muka bumi.
“Kita ini khalifah, pemimpin di muka bumi, bukan penguasa. Maka Tambang adalah amanah, bukan sekadar komoditas ekonomi,” kata Habib Ja'far dalam keterangannya pada Sabtu, 7 Maret 2026 di Jakarta.
Sebagai seorang pemimpin, Habib Ja'far kemudian menerangkan tiga prinsip utama dalam mengelola karunia Tuhan seperti mineral dan sumber daya alam (SDA).
Pertama, aktivitas pertambangan harus dijalankan dengan moral dan etika. Menurutnya, mineral halal tidak hanya menyangkut zat, namun juga mencakup proses.
Ia menekankan bahwa Pengelolaan Tambang juga tidak boleh merusak lingkungan, tidak mengabaikan nilai kemanusiaan, dan tidak melanggar tanggung jawab sosial.
"Mineral halal bukan hanya karena bendanya, tetapi karena cara mendapatkannya tidak merusak dan tidak melanggar nilai," ujarnya.
Selanjutnya, Habib Ja'far juga mengingatkan bahwa pengelolaan Tambang harus dilandasi rasa syukur. Mengolah mineral dan mendorong hilirisasi dipandang sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan, sekaligus upaya menghadirkan nilai tambah bagi bangsa.
“Mengelola dan memberi nilai tambah pada mineral itu bentuk syukur. Ketika kita mengelola dari hulu sampai hilir, kita sedang menjaga amanah dan menjadi tuan di negeri sendiri,” ucapnya.
Terakhir, Habib Ja'far mengatakan, tujuan dari aktivitas penambangan harus bertujuan untuk kemaslahatan. Orientasi pengelolaan sumber daya harus
Comments 0