Foto: ist
KOSADATA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat tragedi kemanusiaan kian menganga di Gaza. Sejak Israel melancarkan serangan militer pada Oktober 2023, lebih dari 18 ribu anak terbunuh. Rata-rata, 28 anak kehilangan nyawa setiap hari akibat bom udara, kelaparan, dan layanan vital yang lumpuh.
“Anak-anak meninggal karena pengeboman, malnutrisi, dan terbatasnya akses kesehatan,” tulis UNICEF melalui akun resminya di platform X, Selasa (10/9).
Lembaga itu menegaskan, kebutuhan mendesak bagi anak-anak Gaza bukan hanya pangan dan obat-obatan, tetapi yang paling krusial: gencatan senjata segera.
Melansir Al Jazeera, sejak serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023, 60.933 warga Palestina tewas dan lebih dari 150 ribu terluka. Ribuan di antaranya anak-anak. Dalam 24 jam terakhir, delapan warga Palestina, termasuk seorang anak, dilaporkan meninggal akibat kelaparan. Total korban kelaparan kini 188 orang, hampir separuhnya anak-anak.
“Bagi mereka yang masih hidup, masa kanak-kanak sudah sirna, digantikan perjuangan untuk bertahan hidup,” kata jurnalis Al Jazeera, Aksel Zaimovic.
Kisah tragis datang dari Kadim Khufu Basim, bocah pengungsi yang menjual kue kering demi menghidupi enam anggota keluarganya. Ayahnya terluka parah dan dirawat di Mesir. “Saya suka sepak bola, tapi sekarang harus bekerja. Masa kecil saya hilang sejak perang dimulai,” ujarnya.
PBB menyebut anak-anak seharusnya menjadi kelompok paling terlindungi di tengah konflik. Namun, di Gaza justru mereka yang paling menderita. Sekolah, pasokan pangan, hingga fasilitas air menjadi sasaran. Hak dasar anak—pendidikan, bermain, hingga gizi yang layak—tergerus oleh perang.
Dampak psikologis pun menekan. Lana, 10 tahun, rambut dan kulitnya memutih dalam semalam akibat trauma ledakan di dekat pengungsian. Ia kini jarang
Comments 0