Demi Menikahkan Warga, Penghulu Ini Tantang Ombak Tanpa Pelampung!

Isma Nanik
Dec 22, 2025

Foto: dok. Kemenag

KOSADATA - Di Mandailing Natal, jauh dari bising kota, ada seorang penghulu yang pekerjaannya menembus sunyi. Namanya Mangku Aulia Lubis, Kepala KUA Tambangan yang mengurus wilayah Batahan. Yang ia layani bukan sekadar administrasi pernikahan, melainkan jarak—dan keberanian.

Setiap kali ada warga Pulau Tamang hendak menikah, Mangku Aulia mesti menaklukkan 69,5 kilometer perjalanan. Angka itu tampak sederhana di atas kertas. Namun bagi Mangku Aulia, angka tersebut adalah rangkaian medan yang tidak ramah: sepeda motor butut, sungai yang mesti diseberangi dengan getek, serta laut yang menuntut nyali.

“Awalnya jujur saja, saya takut. Naik getek, lalu kapal kecil dengan ombak tinggi. Pelampung pun belum tentu ada," ujar Aulia seperti dilansir laman resmi Kemenag, Senin, 22 Desember 2025.

Di pelabuhan Palimbungan, tempat ia menunggu perahu kecil, ombak kerap menghantam tangga. Ia ingat degup jantungnya pada perjalanan-perjalanan awal—ketakutan yang berangsur berubah menjadi kebiasaan.

Pulau Tamang adalah teras jauh Kabupaten Madina. Listrik PLN tak pernah masuk, warga hanya mengandalkan mesin diesel desa atau panel surya seadanya. Internet bukan sesuatu yang bisa dicari—yang tersedia hanya sinyal GSM untuk telepon dasar.

Namun kekurangan infrastruktur rupanya tak merampas kehangatan sosial.

“Memang sepi, tapi nyaman. Warganya ramah sekali. Kalau ada petugas datang, mereka merasa diperhatikan. Nikah di sana itu jadi momen besar bagi mereka," katanya.

Di Batahan, Mangku Aulia mencatat 140–150 pernikahan per tahun. Empat desa mesti ditempuh lewat laut. Di titik seperti itu, KUA bukan hanya kantor negara—ia simbol kehadiran.

Selepas Akad, Duduk Mendengar

Setelah prosesi ijab kabul selesai, Mangku Aulia jarang pulang cepat. Ia memilih duduk bersama warga—mendengar persoalan agama, kondisi sosial desa,


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0