Foto: dok. Komdigi
KOSADATA - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diproyeksikan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara signifikan. Namun, di balik peluang tersebut, pemerintah menilai masih ada pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menyebut perluasan adopsi AI berpotensi menambah kontribusi hingga 3,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
“Daya saing hari ini tidak lagi ditentukan oleh sumber daya, tetapi oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi, terutama AI,” ujar Meutya dalam keterangannya, Minggu, 19 April 2026.
Ia menilai Indonesia berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan momentum tersebut. Ekosistem digital yang terus berkembang dan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat menjadi modal utama untuk memperluas adopsi AI di berbagai sektor.
“Nilai kini bergeser, bukan lagi soal sumber daya, tetapi kemampuan kita mengelola data menjadi solusi,” katanya.
Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-41 dari 198 negara dan masuk dalam Kategori A untuk transformasi digital publik. Posisi ini memperkuat peran Indonesia dalam peta ekonomi digital global.
“Indonesia terus memperkuat posisi sebagai kekuatan utama ekonomi digital di Asia Tenggara,” ujarnya.
Meski demikian, Meutya menyoroti belum meratanya adopsi AI di berbagai sektor. Saat ini, sektor keuangan dan ritel dinilai lebih maju, sementara sektor lain masih tertinggal.
“Kesehatan, pertanian, dan manufaktur harus dipercepat karena di sanalah dampak terbesar bisa kita ciptakan,” tegasnya.
Di sisi lain, pesatnya perkembangan AI juga menuntut kesiapan regulasi. Pemerintah menilai tata kelola yang kuat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko teknologi ini.
“Regulasi AI bukan lagi pilihan, ini kebutuhan yang mendesak dan tidak terhindarkan,” kata Meutya.
Pemerintah, lanjut dia, telah merampungkan
Comments 0